Saat membeli plastik untuk kontak langsung dengan makanan, istilah food grade sering menjadi pertanyaan utama. Namun bagi buyer industri, informasi bahwa resin atau plastik disebut food grade saja belum selalu cukup.
Kemasan dapat mengandung polymer, additive, processing aid, pigment, adhesive, coating, atau komponen lain. Dalam kondisi tertentu, sebagian zat tersebut dapat berpindah dari kemasan ke pangan. Proses ini disebut migrasi.
PerBPOM No. 11 Tahun 2026 tentang Kemasan Pangan memperkuat persyaratan keamanan kemasan pangan di Indonesia, termasuk melalui penerapan batas migrasi. Regulasi tersebut berlaku dan menggantikan PerBPOM No. 20 Tahun 2019.
Apa Itu Uji Migrasi Kemasan Pangan?
Uji migrasi digunakan untuk mengevaluasi perpindahan zat dari material kemasan ke pangan atau media simulasi yang mewakili pangan pada kondisi tertentu.
BPOM membedakan dua konsep utama:
Migrasi total mengukur keseluruhan zat yang berpindah dari kemasan.
Migrasi spesifik mengukur perpindahan zat tertentu yang memiliki batas atau perhatian keamanan tertentu.
Artinya, satu pengujian tidak selalu menjawab semua pertanyaan keamanan. Jenis kemasan, formulasi, dan zat yang digunakan menentukan parameter yang perlu diperhatikan.
Mengapa Jenis Pangan Penting?
Risiko migrasi tidak hanya bergantung pada jenis plastik.
Karakter makanan juga berpengaruh. Pangan berair, asam, berlemak, atau mengandung alkohol dapat berinteraksi dengan material kemasan secara berbeda.
Karena menguji setiap makanan secara langsung tidak selalu praktis, laboratorium dapat menggunakan food simulant yang dirancang untuk mewakili kelompok pangan tertentu.
Prinsip pengujian internasional juga mempertimbangkan jenis pangan serta kondisi kontak. FDA, misalnya, merekomendasikan pemilihan simulant berdasarkan tipe pangan dan pengujian pada kondisi waktu serta temperatur yang mewakili penggunaan yang direncanakan.
Waktu dan Suhu Kontak Juga Berpengaruh
Plastik untuk frozen food tidak mengalami kondisi yang sama dengan kemasan makanan panas.
Karena itu, sebelum pengujian buyer sebaiknya menjelaskan:
- Jenis makanan
- Apakah makanan berminyak atau berlemak
- Suhu saat filling
- Suhu penyimpanan
- Lama kontak
- Apakah produk dipanaskan setelah dikemas
- Apakah kemasan single-use atau reusable
Semakin berat kondisi waktu dan temperatur, semakin penting memastikan metode pengujian sesuai dengan intended use.
Apakah Resin Food Grade Berarti Kantong Otomatis Lulus?
Tidak selalu.
Certificate atau declaration dari produsen resin merupakan dokumen penting, tetapi produk akhir dapat mempunyai formulasi berbeda akibat additive, masterbatch, printing, adhesive, atau proses converting.
BPOM menyatakan hanya zat kontak pangan yang telah dinilai aman yang diperbolehkan digunakan pada kemasan pangan. Regulasi baru juga memperluas daftar material plastik yang diatur serta menambahkan zat kontak pangan yang telah melalui kajian keamanan.
Karena itu, buyer sebaiknya mengevaluasi finished packaging, bukan hanya nama resin dasarnya.
Apa yang Sebaiknya Diminta Buyer dari Supplier?
Untuk aplikasi food-contact, purchasing atau QA dapat meminta:
1. Identifikasi Material
Pastikan jenis polymer dan struktur kemasan jelas, misalnya PE monolayer atau struktur lain.
2. Intended Use
Supplier perlu mengetahui apakah kemasan digunakan untuk dry food, frozen food, makanan berlemak, hot filling, atau kondisi lainnya.
3. Informasi Additive
Jika relevan, pastikan additive, colorant, atau treatment yang digunakan sesuai untuk intended application.
4. Hasil Uji Migrasi yang Relevan
Periksa parameter yang diuji, kondisi test, material sample, tanggal test, metode, dan hasilnya.
Dalam panduan registrasi pangan BPOM sebelumnya, hasil uji migrasi bahkan dapat diajukan oleh produsen pangan maupun berasal dari supplier kemasan untuk kebutuhan tertentu.
5. Kesesuaian Sample dengan Produk Aktual
Hasil uji menjadi lebih berguna jika material, formulasi, ketebalan, dan struktur sample benar-benar mewakili kemasan yang dibeli.
Apakah Setiap Ukuran Harus Diuji Ulang?
Tidak sebaiknya disimpulkan hanya dari ukuran bag.
Yang lebih penting adalah apakah perubahan produk memengaruhi material, formulation, layer structure, additive, thickness, print, coating, atau kondisi penggunaan.
Jika salah satu faktor tersebut berubah secara signifikan, buyer sebaiknya berdiskusi dengan supplier, QA, regulatory team, atau laboratorium mengenai kebutuhan evaluasi ulang.
PerBPOM No. 11 Tahun 2026
Regulasi baru BPOM tidak hanya memperkuat batas migrasi. BPOM juga memperluas material plastik yang diatur dari 41 menjadi 58 jenis dan menambahkan 88 zat kontak pangan yang diizinkan setelah evaluasi keamanan. Ketentuan untuk kemasan reusable dan recycled packaging juga diperjelas.
Ini membuat dokumentasi material dan intended use semakin penting bagi buyer.
Kesimpulan
Uji migrasi kemasan pangan bukan sekadar formalitas. Tujuannya adalah memastikan bahwa perpindahan zat dari kemasan tetap berada dalam persyaratan keamanan yang berlaku untuk kondisi penggunaan tertentu.
Buyer perlu melihat lebih dari label “food grade”: perhatikan polymer, additive, struktur kemasan, jenis makanan, waktu dan temperatur kontak, serta hasil pengujian yang relevan.
PT Dynaplast Mandiri memproduksi film dan kantong PE untuk berbagai kebutuhan industri termasuk sektor makanan dan minuman. Untuk aplikasi food-contact, spesifikasi material dan kondisi penggunaan perlu dikomunikasikan sejak awal agar kebutuhan kemasan dapat dievaluasi secara tepat.
Terjemahan




